sedikit tentang ekofarming,,,
Semenjak revolusi hijau ramai secara global (dimulai sejak 1934 di meksiko dan menyeluruh pada abad 20), eksplorasi terhadap pertanian dilakukan besar-besaran sebagai komoditas kesejahteraan manusia. Hal yang dilakukan pertama kali tentu saja konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian, dan ini dilakukan secara besar-besaran. Pertanian menjadi satu hal penting yang menopang kehidupan manusia. Pertanian konvensional memang memberikan berkah kepada penduduk dunia, namun juga memberikan masalah lain kepada lingkungan bahkan kepada keberlanjutan pertanian itu sendiri.
Dewasa ini pertanian konvensional banyak memberikan masalah, baik kepada lingkungan luar maupun kepada sistem bertani itu sendiri. Pertama melihat semakin menyempitnya lahan untuk bertani maka banyak masyarakat tani membuka lahan di tempat yang seharusnya tidak untuk bertani, bahkan di lahan konservas sekalipun, Seperti di badan pegunungan yang notabene merupakan daerah konservasi air. Konversi lahan ini banyak mengakibatkan dampak yang nyata. Hilangnya daerah konservasi air menyebabkan daerah perkotaan yang berada di bawah gunung sering mengalami kebanjiran, selain itu semakin sedikitnya ketersediannya air bersih dan air untuk daerah pesawahan di daerah yang lebih rendah.
Kemudian disadari bahwa sistem pertanian selama ini tidak melihat baik kepada unsur ekologis sehingga keberlanjutan pertanian terbatas hingga habisnya sumber daya ekologis itu sendiri. Pertanian konvensional juga telah meningkatkan penggunaan pestisida yang mengakibatkan rusaknya tanah serta pola ekosistem yang ada di dalamnya sebagai pendukung keberlanjutan “hidup” tanah. Melihat itu, sistem pertanian saat ini melihat ekologi sebagai salah satu elemen penting untuk keberlansungan pertanian itu sendiri. Dalam kata lain lahirlah suatu konsep ekologi pertanian yang disebut ekofarming atau pertanian berorientasi ekologi (ecology oriented farming).
Ecofarming sendiri adalah bentuk budidaya pertanian yang mengusahakan sedapat mungkin tercapainya keharmonisan dengan lingkungannya. Dalam hal tertentu dalam ecofarming bisa saja memasukkan komponen pepohonan atau tumbuhan berkayu lainnya sehingga dapat disebut agroforestri. Dalam eco-farming tidak selalu dijumpai unsur kehutanan dalam kombinasinya, sehingga dalam hal ini ecofarming merupakan kegiatan pertanian.
Dalam istilah lain disebut juga integrated farming (atau integrated crop management, ICM), merupakan pola holistic penggunaan lahan yang mengintegrasikan proses regulasi alami menjadi aktivitas pertanian untuk mencapai peralihan maksimal dari input off-farm dan untuk mempertahankan pendapatan pertanian. Sistem-sistem yang terintegrasi didalamnya antara lain: multifunctional crop rotation, integrated nutrient management, minimum soil cultivation, integrated crop management, ecological infrastructure management.
Ekofarming juga disebut sebagai Organic farming atau metode pertanian yang meminimalisir penggunaan kimia dalam proses produksinya. Hal ini bertujuan untuk memproduksi hasil tani dengan nilai nutrisi tinggi dan mengimprovisasi fertilitas jangka panjang serta tanah pertanian yang berkelanjutan. Sistem ini memajukan dan meninggikan agroekosistem, termasuk biodiversitas, siklus biologi dan aktivitas biologi di dalam tanah. Istilah organic farming sendiri ditemukan oleh Lord Northbourne dari bukunya berjudul Look to the Land yang lahir dari konsepsinya tentang “pertanian sebagai organisme”, dia memaparkan sebuah pendekatan holistic, keseimbangan ekologis ke dalam pertanian.
Prinsip utama pertanian organik adalah penggunaan input luar yang rendah yang berlawanan dengan penggunaan input luar yang tinggi. Berdasarkan prinsip tersebut, maka berkembang berbagai istilah seperti Cyclic Farming System, regeneratif agriculture, sustainable agriculture, organic farming, organic system, organic agriculture, biological agriculture, purely organik agriculture, dan ecofarming, yang merupakan kontras dari istilah-istilah conventional farming, industrialized form agriculture, dan industrialized farming system (Mugnisjah, 2001). Pertanian organik merupakan hukum pengembalian (low of return) yang berarti suatu sistem yang berusaha untuk mengembalikan semua jenis bahan organik ke dalam tanah baik dalam bentuk residu dan limbah pertanaman maupun ternak yang selanjutnya bertujuan memberi makanan pada tanaman (Sutanto, 2002).
Praktik ekofarming tidak selalu menyalahkan pertanian konvensional secara keseluruhan, melainkan bagaimana menghubungkan dari konsep pertanian konvensional menjadi sesuatu yang baik bagi alam mengacu pada konsep “kembali ke alam”. Salah satu contohnya adalah pengelolaan ekofarming pada jenis pertanian kultivasi bergantian (Shifting cultivation). Shifting cultivation atau pertanian slash and burn (potong dan bakar) dikenal juga sebagai ladang-hutan bergantian. Pengelolaan ekologis dalam hal ini mengacu pada masalah masa tandus (fallow) dan masa tanam secara bergantian untuk keberlanjutan pertanian tersebut.
Hingga saat ini, shifting cultivation sendiri belum cukup dimengerti, selalu disebut primitif, boros, ilegal, tanpa mengambil pertimbangan variabel lokal seperti kerapatan populasi, areal lahan yang tersedia, iklim, tanah, atau kearifan lokal pertanian. Meski pengertian pertanian bergantian (”shifting cultivation”) masih dalam perdebatan namun banyak pakar menyetujui bahwa pada istilah tersebut terdapat komponen arti yaitu berbagai macam aplikasi bertani yang memiliki masa tandus dalam arti untuk mempertahankan produktivitas tanah.
Sementara itu dua alasan utama dilakukannya penandusan (fallow) adalah untuk mengeliminasi keberadaan gulma dan membangun fertilitas ekosistem. Gulma tentu saja dianggap mengganggu bagi lahan pertanian dalam hal kompetisi nutrisi pada tanah dimana gulma memiliki ketahanan hidup yang tinggi dan pertumbuhan yang super cepat. Hal ini tentu saja menjadi kompetitor besar bagi komoditas pertanian. Beberapa studi memperlihatkan apakah peningkatan tekanan gulma berkorelasi dengan reduksi panen.
Fertilitas ekosistem berhubungan juga dengan pembersihan ladang dari gulma pada masa tandus, menurut Clarke 1976 dan Dove 1985 dari berbagai studi mengindikasikan bahwa hutan sekunder yang muda berkembang menuju hutan yang matang karena kemudahan dalam pembersihan (”easy clearing”). Hal ini karena pengaruh kuat masa tandus terhadap kondisi tanah pada masa berladang setelah melalui masa tandus.
Ekofarming memiliki keuntungan baik dari segi ekologis maupun ekonomi karena sistem ini memang mengintegrasikan keduanya. Keuntungan ekologis jelas didapat diantaranya konservasi air, siklus daur ulang hara pada tanah, biodiversitas yang tinggi, dan tentu saja fertilitas ekosistem sehingga didapat pertanian berkelanjutan. Keuntungan ekonomi didapat dari optimalisasi produksi pertanian melalui berbagai cara pertanian seperti diversifikasi komoditas dalam satu petak (multiple cropping), dapat juga dengan lahan kecil dan sumber daya pekerja minimum dengan cara permaculture (permanent agriculture) atau implementasi pertanian skala kecil bahkan mikro yang diintegrasikan dengan habitat manusia dan diserahkan pada pola ekosistem alami.
Pada sistem ekonomi, ekofarming sebetulnya dapat masuk pada sistem capital employed maupun subsistence tergantung pola hubungan manusia-pertanian diarahkan pada kesejahteraan manusia. Bila mendefinisikan kesejahteraan dengan penghasilan tinggi maka hasil surplus ekofarming dapat dipasarkan secara global (capital) maupun lokal (subsisten) dengan produk yang unggul dari segi alamiah. Bila kesejahteraan dapat diterjemahkan pada terpenuhinya kebutuhan manusia maka hasil panen dapat mencukupi konsumsi pangan keluarga bahkan saling berbagi surplus panen, tentu saja hal in ihanya ada pada sistem subsisten.
Referensi penunjang:
Sharashkin L, M Gold, and E Barham. 2005. ECOFARMING AND AGROFORESTRY FOR SELF-RELIANCE: Small-scale, Sustainable Growing Practices in Russia. AFTA 2005 Conference Proceedings.
O Mertz. 2002. The relationship between length of fallow and crop yields in shifting
cultivation: a rethinking. Agroforestry Systems 55: 149 – 159.
Nirwan Sahiri. 2003. Pertanian Organik: Prinsip Daur Ulang Hara, Konservasi Air Dan Interaksi Antar Tanaman. Makalah Individu Pengantar Falsafah Sains.
http://en.wikipedia.org/wiki/Green_Revolution#Environmental_impacts
http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_organic_farming
(Mugnisjah, 2001). Vladimir Megre (1996, 2001) (1975, pp.112-113):
F. Schumacher , (Sutanto, 2002),
Schumacher, E. F. 1975. Small is beautiful: Economics as if people mattered. New York: Harper & Row, 305 pp.
Clarke, S., L. Varshavskaya, S. Yaroshenko, and M. Karelina. 1999. The Russian dacha and the myth of the urban peasant. Moscow: The University of Warwick and Institute for Comparative Labour Relations Research (ISITO).
Artemov, V. A. 2003. The village in the 1990s: Trends in daily activity among the rural
population. Sociological Research 42(6):27-43.
Dove M.R. 1985. Swidden Agriculture in Indonesia .The Subsistence Strategies of the Kalimantan Kantu. New Babylon, Studies in the Social Sciences. Mouton Publishers, Berlin.
Clarke W.C.1976 .Maintenance of agriculture and human habitats Within the tropical forest ecosystem. Human Ecology 4:247–259.
- ketahanan dan monodiversitas pangan -
Di Indonesia istilah ketahanan pangan lebih ditekankan kepada kondisi dimana terjadinya kecukupan penyediaan pangan bagi rumah tangga yang diukur dari ketercukupan pangan dalam hal jumlah dan kualitas dan juga adanya jaminan atas keamanan, distribusi yang merata dan kemampuan membeli (UU No.7/1996). Mencermati hal tersebut ketahanan pangan indonesia dapat dikatakan belum kokoh bahkan dinilai salah satu ketahanan nasional yang paling rapuh (Krisnamurthi, 2003).
Menurut penilaian kami salah satu kendalanya adalah ketergantungan terhadap beras sebagai satu-satunya bahan pangan utama (primary grain) dan diskriminasi terhadap pangan lokal. Beras telah menjadi sumber pangan dominan yang tercermin dari 50% total konsumsi nasional (Van der Eng, 2001) sedangkan pangan lokal telah didiskriminasi sejak zaman orde lama (Lassa, 2005). Hari ini, 96% penduduk Indonesia makan beras ketimbang sumber pangan lainnya (Simatupang, 1999). Paradigma ini muncul sejak zaman kolonial dimana Kebijakan harga beras telah menjadi basis kebijakan pangan dan beras lebih dari 300 tahun (Mears & Moeljono 1981).
Bukan berarti menjelekkan padi, namun saya berparadigma untuk perlunya melakukan penganeka-ragaman jenis komoditas sumber pangan pokok (primary grain) selain nasi dari komoditi tanaman lain (bioprospek tanaman pangan). Kami sendiri sadari bahwa hal tesebut bukan hal yang baru, penggunaan pangan non-beras sudah ada sejak zaman dahulu bahkan mungkin saat ini di beberapa daerah masih menjadi budaya seperti sagu (Metroxylon sagu) di Papua. Namun kami melihat secara global di negeri ini terhadap paradigma nasi sebagai satu-satunya sumber pangan utama yang memiliki nilai gengsi paling tinggi di Indonesia. Ketika banyak jenis sumber pangan utama serta cocok untuk dibudidayakan maka hal tersebut dapat menjadi suatu solusi bagi ketahanan pangan Indonesia.
Pandangan kami didasari dari potensi biodiversitas Indonesia yang diberkahi biodiversitas yang tinggi baik jenis dan juga potensinya. Kami melihat ada beberapa jenis tanaman asli Indonesia yang berpotensi besar untuk menjadi bahan pangan pokok baik dari golongan serealia (asli dan palsu) maupun dari golongan non-serealia dengan beberapa tambahan kelebihan dibanding penggunaan beras itu sendiri.
Beberapa tanaman yang dapat dijadikan sumber pangan utama (primary grain) antara lain dari golongan serealia asli (Poaceae) adalah jali (Coix lacyma-jobi L.), jagung (Zea mays L.); dari golongan non-serealia seperti ‘Talas Bogor’ (Colocasia esculenta (L.) Schott – Araceae), singkong (Manihot esculenta Crantz – Euphorbiaceae) sagu (Metroxylon sagu – Arecaceae). Komoditas tanaman tersebut telah memiliki kandungan pencukupan gizi yang standar, bahkan beberapa diantaranya telah menjadi sumber pangan pokok bagi beberapa daerah di Indonesia seperti jagung di Madura, sagu di Papua namun kebudayaan tersebut telah beralih kepada beras.
Kelebihan beberapa tanaman tersebut diatas dibanding padi adalah bahwa selain kelengkapan syarat gizi, tanaman-tanaman tersebut sangat cocok tumbuh di Indonesia sebagai negara tropis. Selain itu, beberapa tanaman yang bisa dijadikan alternatif pengganti beras dapat dimanfaatkan dengan cara yang lebih baik yaitu dengan cara pengolahan menjadi tepung sehingga proses distribusi dan daya tahan menjadi lebih lama.
Salah satu contohnya adalah jali (Coix lacryma-jobi L.) memiliki kandungan gizi 380 kalori per 100 gram, karbohidrat 65,3 gram, lemak 6,2 gram, protein 15,4 gram per 100 gram dan kandungan mineral lainnya (Duke dan Ayensu, 1985). Tanaman ini sangat berpotensi sebagai sumber pangan karena memiliki rasio protein-karbohidrat tertinggi dibanding serealia lainnya (Schery, 1972). Jali juga memiliki pertumbuhan relatif singkat hanya dibutuhkan waktu sekitar 4-5 bulan dari biji sampai memproduksi biji baru (Duke, 1983).
Saya sadari juga bahwa masalah ketahanan pangan dalam hal penganeka-ragaman sumber pangan utama (primary grain) begitu sulit melihat kompleksnya masalah ini terkait budaya nasi di seluruh penjuru nusantara hingga terkait masalah politisasi nasi sejak zaman orde baru 1983. Namun kami juga sadari perlu adanya usaha nyata ketika hal tersebut memang dapat menjadi sebuah solusi untuk kokohnya ketahanan pangan nusantara.
salam,
- arief hamidi -
Referensi
Duke, J (1983). Handbook of Energy Crops – 1983. Published only on the Internet, excellent information on a wide range of plants.
Duke. J. A. and Ayensu. E. S.(1985). Medicinal Plants of China .Reference Publications, Inc,.
Krisnamurthi, B.(2003). Penganeka-Ragaman Pangan: Pengalaman 40 Tahun Dan Tantangan Ke Depan.Jurnal Ekonomi Rakyat Th. II No.7 – Oktober 2003. dari http://www.ekonomirakyat.org/edisi_19/artikel_4.htm diakses 18 November 2007.
Lassa, J.(2005). Politik Ketahanan Pangan Indonesia 1950-2005. diambil dari http://www.zef.de/module/register/media/3ddf_Politik%20Ketahanan%20Pangan%20Indonesia%201950-2005.pdf diakses 19 november 2007.
Schery, R.W. 1972. Plants for man. 2nd ed. Economic Botany.
Simatupang, P.(1999).Toward Sustainable Food Security: The Need for A New Paradigm. ACIAR Indonesia Research Project, Working Paper 99.15. 33 pp.
van der Eng, P. (2000). Food for Growth: Trends in Indonesia‘s Food Supply, 1880-1995. Journal of Interdisciplinary History, XXX: 4. pp. 591-616. Van der Eng 2001:190
Survival Games,,,- game to survive – haha
“The game to survive was being dareful, but the fangs of BZP has shown his expected class… MORE THAN OUR EXPECTED “
dari acara ini saya baru denger tentang Pelopor Adventure Camp (PAC) – yang ngadain ni acara -, padahal mereka dah eksis sejak 1993 dan telah menjadi perusahaan besar di bidang jasa training2 atau event2 adventure, survival, dsb dengan klien perusahaan2 raksasa macem Astra, Nokia, dll bahkan mereka yang nyeleksi peserta dari Indonesia ttg Adventure Game yang di California itu,,edaaan… huff untunglah ikut acara ini,,,link yang sangat bagus kenalan ama mereka (ama presdirnya langsung lagi),,,hahaha
The Survival games
Kami datang dah telat cuma 2 orang lagi (harusnya 3 org/tim) mendadak MR Anshori tak bisa ikut karena ibunya sakit. tapi kita ikut terus dengan tujuan perluas jejaring,,haha.
Tentang survival game semua peserta – termasuk kita – mengira klo ni tu lomba survival yang di’lempar’ ke sebuah hutan atau lahan survival manapun,,,dan kita harus survive hingga batas waktu yg ditentukan dengan item barang yang dibatasi -mungkin hanya golok dan ponco mungkin i think -…tapi bingungnya ni acara cuma 2 hari dan dikasi makan 4 kali selama acara…dong dong dong,,,nah lho,,,what kind of survival game,,,haha,,,tapi kemudian dijelaskan bang Iwan (pihak panitia) bahwa SURVIVAL GAMES adalh merupakan sebuah SIMULASI saja tentang menghadapi kondisi SURVIVAL,,,hahahaha,,,oooo simulasi,,,(Untungya manteb abis ni games)…
Pada hari pertama tampak -gimana ya??- semua peserta agak ‘kecewa’ karena acara ga sesuai dengan harapan,,,hari pertama diisi dengan games2 perkenalan, tes2 kepribadian (tes tulis-haha), dan penjelasan2 ttg survival (teori dan latihan)…’tapi kekecewaan tersebut tidak tampak karena semua peserta berbaur dalam kebersamaan khas para Pencinta Alam…dan itu membuat kami lebih nyaman…malemnya diisi oleh presentasi profil PAC dan games2 ttg membuka pandangan dalam tim. Banyak hal didapat semua peserta dari game ini…
dan kita semua -peserta- bener2 semangat menjalani acara ini,,,
semua peserta bener2 sudah kompak,,,bukan hanya dlm satu tim,,tapi kita bener2 merasa sebagai 1 tim besar yang akan melakukan semacam ekspedisi ataui semacamnya,,,ga sadar klo kita bakal bersaing,,,
- hari kedua – ,,,
The Games
dimulai dengan cek barang,,,barang yang boleh dibawa hanya sebanyak persen nilai yg kita dapet dari tes saat pendaftaran,,,UNTUNGLAH kita dapet nilai 70,,hahaha,,ga nyangka pisan..artinya kitaboleh bawa 70% item dari barang yang kita bawa dari rumah,,,TAPIIII sama aja hahaha,,,kita cuma bawa dikit bgt item cuma bawa golok, ponco, buku BZP sama susu coklat 1sachet,,,hahaha,,,ga ngepek,,,
okeh,,,sebetulnya games-nya macem orienteering games gitu dan di tiap pos baru dites pengetahuan dan keterampilan ttg survival,,,games berakhir ampe jam 3sore (kita mulai jam9),,,asumsinya klo ga bisa jawab dgn benar di tiap pos maka kita ga survive,,,dan klo kita ga selesai setelah jam3 kita dianggap ga survive alias diangggap ‘mati’ hahaha…di tiap pos ada skor nilai dari tiap jawaban survival kita,,,
the games begin,,,kita hanya di kasih peta waduk jatiluhur dan kompas orienteering silva,,,untuk menuju ke tiap pos,,,daaaan kita pakai,,,wow,,,kano,,,buat bdua (btiga sebetulnya),,,waaaa asik banget lah,,,pertama kali dayuh kano (pernahnya cuma nebeng,,,haha)…cuma 4 tim yg dikasi kano,,,tim yg nilai tes pndaftarannya 4 tbesar,,,thx bangetlah kita dapet 70,,,wuih klo ngga suruh bikin kano donat,,,waaaa ga pernah sama sekali bikin yang gituan,,,
okeh the journey begin,,,lokasi ditentukan,,kita orientasikan,,dan langsung jalan,,,dayuh,,dayuh,,dayuh,,,wah adu dayuh ama tim dari kanal ranger ambin ga kuat euy,,mereka emang mantabs lah dayuhnya,,,sampai di tempat pertama barengan,,tapi itu bukan pos cuma menunjukkan spot selanjutnya,,,orientasi lagi,,jalan,,,,nah ini seru di sini,,,para peserta pencar,,,bingung,,,ke segala arah,,ada yg ke utara ada yang arah balik dan arah yang benar,,,cuma 1 tim yang ke arah yang benar,,,dan untunglah itu kami,,jadi lumayan bisa ngehemat tenaga (ga perlu dayuh yang harot,,,karena yang lani pada jauh,,,)…hahaha karena cape tadi kita diem dulu ajah sambil poto-potoan dulu,,,hahaha,,yang lain dah ga keliatan entah dimana,,,tapi beberapa waktu kemudian (15menitan lah) baru mulai pada muncul dari belakang,,,jauh sih,,,edan kecepatan penuh mereka mendayuh,,,kita pun jalan ga pake kompas tapi pake peta buta,,,hahahaha -belum terampil pake kompas silva- ,,,sempet salah lokasi,,dan karena itu,,sial,,,kita jadi bareng sampe ama tim ambon tadi (wah emang d best lah mereka…-miss u all-),,,n sampailah di pos pertama,,setelah asyik mendayuh jauh,,,haha
@ 1st post
inilah pos pertama,,,dan tantangannya adalah ,,, JAWAB SOAL,,,haha,,di tes pengetahuan kita ttg survival padang pasir,,,di sini kita cuma ngurutin prioritas 15 item yg ada pada soal cerita,,,tapi mantepnya,,tiap item berbobot 10 (wow,,,klo bener semua dapet 150,,,)..-aga aneh juga si -…kita dan tim ambon jawab dan jawaban kita,,,salah semua,,,hahaha cuma dapet nilai 5 dari usaha,,haha..lumayan
the next destination,,, ada 3 tempat tujuan yg harus kita pilih salah satu,,,semuanya memang pos kedua,,pilihan pos tersebut menentukan track selanjutnya…jarak tiap pilihan pos lumayan jauh,,,
dan di sini kita terpisah dgn tim kanal ranger ambon,,,mereka mengambil pilihan pertama kita pilihan kedua…hoho,,dayuh dayuh dayuh terus mendayuh meski dah cape juga,,huff,,
nah nyampe juga di pos kedua–
@ 2nd post
di tepi perbatasan daratan-waduk dr kaki gunung – hah lupa namanya -…di sini mulai dari peralihan zona wadukke zona daratan (hutan)…
okeh tes pos kedua adalah tentang medis praktis,,,hah,,,soalnya kurang lebih:’ salah satu anggota mengalami patah tulang kering sebelah kanan,,,anda harus memberi pertolongan sebelum melanjutkan perjalanan selanjutya,,,’ huhuhu fikir sejenak lalu buat skenario..ya windra jadi korban,,,haha
untunglah punya dasar ilmu medis dari even2 besar di kampus,,,haha…intinya buat agar 2 sendi diantara tulang diam,,,bungkam dengan ‘bidai’ nah karena bidai ga ada,,ya kita cari kayu sekitar yg lumayan kuat lurus,,,ukuran pas dgn kaki…dapet lah tu kayu2..tinggal cari pengganti ‘mitela’nya neeh coz kita ga bawa mitela n semacam bandana dll…yah dapet juga dari rapia,,,pake aja yg penting bisa buat ngikat bidai,,,
ikat atas bawah simpul simpul nah beres juga,,,cek berdiri dan berjalan,,,haha sukses,,,selesai dah tantangan…kali ini dapet nilai klo ga salah 25 apa 30 gt -lupe hehe-…yah yg jelas bisa menyelesaikan tantangan tepat waktu,,huff senang juga…
to the next pos,,,kali ini memasuki perjalanan menembus hutan,,,hahaha,,,spesialis kami,,,
ada 2 pilihan pos,,,sebetulnya sih ntar nya sama aja,,,cuma beda jalur ajah,,,
kita pilih jalur yang ada keterangan ‘mungkin bertemu sumber air’ … n kita pun cabs..
haha senangnya karena kita tim pertama yg memulai petualangan hutan ini,,,
@ perjalanan ,,, di sini mulai seru…
actually daerah tujuan dah kliatan jauh di sana,,,kaki gunug sekitar 4kiloan 75dpl (mungkin),,,dan mita akan menuju ke sana,,,hendakmasuk hutan,,,hmm mulai melihat2 vegetasi sekitar,,,pertama (masih diluar) melewati perdu2 yg aku sendiri yakin namanya apa tp yang jelas itu lamiaceae (inflorescence vertisilaster dll)…n karenya aman bwt dikonsumsi (hehe langsung hunting donk)…o iya dari mulai perjalanan ini kita mulai juga mencari tumbuhan hewan bwt survivalnya,,,jadi kami langsung hunting apa yg kami tau…salah satunya tumbuhan yg mendominasi wilayah tadi,,,
mulai masuk hutan,,,disambut oleh manohi2 muda -aneh juga sih ada mahoni di sini- n beberapa tanaman standar hutan sekunder dari myrtaceae, anacardiaceae, rubiaceae, dll n tak lupa Ficus2an juga…tak lupa juga tanaman2 bawah alias herba,,,teklan (Eupatorium riparium), harendong bulu (Clidemia hirta)-langsung diembat tuh-, harendong (Melastoma affinae),,dll lah lainnya mah rerumputan…
sambil melihat arah kompas berharap tidak salah arah -tdk melenceng arah maksudnya- kami terobos ambil jalan lurus – yaa agak menceng dikit si – dan haha nemu juga jalan setapak yang jeblog (becek cm ga bnyk air menggenang),,,dan haha terlihat bekas tapak2 kaki,,banyak,,dan terlihat belum begitu lama,,,haha kami pikir ini jalur yg dipakai panitia bwt nyiapin jalur lomba,,,sambil pantau kompas kita ikuti jalan setapak tsb…mulai memasuki hutan bambu (awi) tampakGigantochloa kelompok2 mendominasi daerah sekitar…ada juga beberapa pohon besar dari sterculiaceae dan beberapa zingiberaceae tepus (Achasma foetens) dan honje (Nicoalia/Eltingera speciosa),,,dan beberapa perdu hutan spt tadi,,,banyak juga hareueus (Morus sp.) cuma lg ga berbuah -sayang padahal snack hutan tuh-…ga jauh kemudian kami nemu spot bayangan (artinya tanda semapur yang hanya bertuliskn angka posisi spot tersebut tanpa ada pos) ,,, karena bukan spot yang dimaksud maka kami meneruskan perjalanan – sambil hunting tentunya -…
ga jauh setelahnya kami mulai keluar dari hutan bambu kembali ke hutan campuran dan menemukan liana di sana -ntah spesiesnya apa- mungkin juga Kadsura atau Mimosaceae yang kami kira inilah sumber air yg dimaksud…bener atau ngga kita coba tebas walawpun udah ada bekas tebasan orang,,,tapi percuma soalnya golok yg kita pakai tumpul haha,,,ga bisa buat membelah liana sekalipun,,,yah akhirnya ambil sedikit aja buat sampel doank buat diliatin ke panitia di pos BZP nantinya (berharapnya,,,hehe)…yah tak jauh kemudian kami mulai mendengar suara riak2 kecil air mengalir seolah ada aliran sungai sempit di dekat kami,,,melihat vegatasinya memang terdapat beberapa herba semak yg menandakan ada sumber air seperti teklan dan beberapa talas2an (Araceae) seperti Xanthosoma,,,dan memang tak jauh setelahnya kita menemukan aliran air tersebut,,,yeeeee….perjalanan tak terhenti kali ini menanjak ,, ternyata melawan arah aliran sungai namun mengikuti alur sungai…dan setelah menanjak terus,,akhirnyaaaaa,,,,sampailah kami di spot tujuan,,,di sini airnya lebih banyak mengalir,,,kami pun menampung airnya ke botol akua yg udah abis,,sambil kecapean kita duduk2an dulu sambil berbasuh air tadi,,,huh segerr,,,daerahnya terbuka karena dekat jalur jalan yang lebar…sekitar terdsapat pohon2 yg tak asing spt jambu (Psidium guajava), kayu putih (Eucalyptus sp.), sisa nya lupa…haha…mencocokan posisi dan dapet posisi spot selanjutnya,,,pasang kompas set posisi dan siap lanjut…-setelah istirahat dulu sekitar 10mnt sambil bteduh-…
-
Terkini
- Setaria palmifolia – palmgrass, jawawut (sunda)
- story of spectabilis
- Setaria palmifolia – palmgrass, jawawut (sunda)
- Cyperus esculentus L.– Chufa sedge, Yellow nutsedge
- Coix lacryma-jobi L. – job’s tear, adlay millet, jail/hanjeli (sunda)
- Eleusine coracana (L.) Gaertn. – ‘Finger millet’, ‘ragi’, jampang carulang (sunda)
- sedikit tentang ekofarming,,,
- - ketahanan dan monodiversitas pangan -
- Survival Games,,,- game to survive – haha
- Hello world!
-
Tautan
-
Arsip
- Januari 2011 (1)
- Mei 2010 (1)
- Mei 2008 (4)
- April 2008 (4)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS